Zonaperistiwa SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi membuka Allpack Surabaya Expo 2026 di Grand City Convex Surabaya, Rabu (1/8/26).
Pameran internasional yang menghadirkan teknologi pengolahan, pengemasan (packaging), dan otomasi industri ini diharapkan menjadi motor penggerak peningkatan daya saing industri manufaktur, UMKM, serta produk ekspor Indonesia, khususnya dari Jawa Timur.
Dalam sambutannya, Khofifah menegaskan bahwa kemasan bukan lagi sekadar pembungkus produk, melainkan faktor penting yang menentukan nilai tambah dan daya saing di pasar nasional maupun internasional.
"Saya sejak tahun 1992 selalu menyampaikan konsep petik, olah, kemas, jual. Nilai tambah sebuah produk justru diperoleh setelah proses pengolahan dan pengemasan. Packaging yang baik akan meningkatkan nilai jual produk petani maupun nelayan," ujar Khofifah.
Menurutnya, banyak hasil pertanian dan perikanan mengalami kerugian akibat minimnya fasilitas pengolahan dan pengemasan. Produk yang melimpah saat panen sering tidak terserap pasar sehingga berakhir membusuk.

Karena itu, Khofifah mengapresiasi penyelenggaraan Allpack Surabaya Expo 2026 sebagai wadah mempertemukan pelaku industri, pemerintah, akademisi, hingga investor dalam memperkuat ekosistem industri pengemasan nasional.
"Pengolahan dan packaging menjadi solusi agar produk kita memiliki nilai tambah yang lebih tinggi, mampu bersaing di pasar ekspor, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan," katanya.
Sementara itu, CEO Krista Exhibitions Daud Salim menjelaskan bahwa tahun ini menjadi momentum istimewa karena untuk pertama kalinya nama Allpack Surabaya diperkenalkan sebagai identitas baru pameran teknologi pengolahan dan pengemasan di Jawa Timur.
Perubahan nama tersebut menandai semakin luasnya cakupan pameran sebagai bagian dari jaringan Allpack Indonesia, pameran teknologi pengolahan dan pengemasan terbesar di Indonesia yang rutin digelar setiap tahun di Jakarta.
"Melalui Allpack Surabaya kami membawa standar pameran nasional dan internasional lebih dekat kepada pelaku industri di Jawa Timur dan Indonesia bagian timur," ujar Daud.
Pameran berlangsung selama empat hari dengan diikuti sekitar 120 peserta dari 10 negara, termasuk Indonesia sebagai tuan rumah. Selain perusahaan nasional dan internasional, pameran juga melibatkan sekitar 30 pelaku IKM dan UMKM dari Jawa Timur serta berbagai daerah di Indonesia.
Berbagai teknologi yang ditampilkan meliputi mesin pengolahan makanan dan minuman, mesin pengemasan, otomasi pabrik, bahan kemasan berbahan plastik, kertas, karton, aluminium, kaca, hingga kemasan ramah lingkungan serta solusi logistik dan ekonomi sirkular.
Daud menambahkan, sejumlah peserta juga menawarkan layanan Original Equipment Manufacturing (OEM) yang membuka peluang bagi UMKM membangun merek sendiri dengan dukungan manufaktur profesional.
"Kami ingin Allpack Surabaya menjadi tempat bertemu, berkolaborasi, berinovasi, berinvestasi, dan tumbuh bersama bagi seluruh pelaku industri," katanya.
Direktur Industri Kecil dan Menengah Pangan, Furnitur, dan Bahan Bangunan Kementerian Perindustrian RI, Afrizal Haris, mengatakan paradigma industri kemasan kini telah berubah. Kemasan tidak lagi hanya berfungsi melindungi produk, tetapi juga harus memenuhi aspek keamanan pangan, legalitas, keberlanjutan lingkungan, hingga tuntutan perdagangan global.
"Kalau dulu kemasan yang penting murah, sekarang harus memenuhi standar, mencantumkan informasi produk secara lengkap, serta menggunakan material yang ramah lingkungan dan dapat didaur ulang," ujarnya.
Afrizal mengungkapkan, dalam sepuluh tahun terakhir Kementerian Perindustrian telah memfasilitasi 2.169 IKM melalui konsultasi desain kemasan serta memberikan bantuan cetak kemasan kepada 679 IKM di seluruh Indonesia.
Selain itu, Kemenperin juga mengembangkan platform digital Kemasan yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk memperoleh layanan konsultasi desain, informasi regulasi, hingga peningkatan kualitas kemasan secara terintegrasi.
Pada kesempatan yang sama, Indonesia Packaging Federation (IPF) turut menyampaikan dukungannya terhadap penyelenggaraan pameran. Ketua IPF Aria Susanti menilai industri pengemasan terus berkembang seiring meningkatnya permintaan dari sektor makanan dan minuman, kosmetik, farmasi, jamu, hingga produk perawatan pribadi.
IPF juga menggelar seminar bertema Building Circular Packaging Ecosystem in Indonesia yang membahas pengembangan ekosistem kemasan berkelanjutan melalui inovasi dan ekonomi sirkular.
Dengan penyelenggaraan Allpack Surabaya Expo 2026, diharapkan Jawa Timur semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat industri manufaktur, pengolahan, dan pengemasan terbesar di Indonesia sekaligus menjadi gerbang distribusi produk nasional menuju pasar global.(red)
Editor : Redaksi zonaperistiwa