Zonaperistiwa SURABAYA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur mencatat stabilitas sektor jasa keuangan di Jawa Timur hingga awal tahun 2026 tetap terjaga dan menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya dinamika ekonomi global maupun domestik.
Hal tersebut disampaikan OJK Jawa Timur dalam Siaran Pers Nomor SP-04/KOSB/OJK/4/2026 yang dirilis di Surabaya, 15 April 2026.
OJK menilai sektor jasa keuangan di Jawa Timur masih mampu menjalankan fungsi intermediasi secara optimal guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, meskipun tekanan inflasi mengalami peningkatan pada awal tahun 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, inflasi Jawa Timur pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,88 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut meningkat dibandingkan inflasi akhir tahun 2025 yang berada di kisaran 2,93 persen yoy.
Kenaikan inflasi dipengaruhi oleh meningkatnya harga komoditas pangan strategis, tarif energi, hingga komoditas nonpangan seperti emas perhiasan.
Namun demikian, pada Maret 2026 inflasi Jawa Timur mulai melandai menjadi 3,79 persen yoy, meski masih berada di atas target inflasi nasional sebesar 2,5 ± 1 persen.
Secara bulanan, inflasi pada Maret 2026 tetap terjadi seiring meningkatnya permintaan masyarakat selama Ramadan, terutama pada kelompok makanan, minuman, dan transportasi.
Tekanan inflasi juga dipicu oleh komoditas pangan bergejolak seperti cabai dan daging, serta kelompok administered prices dan kenaikan harga emas. Selain itu, meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional turut mendorong inflasi sektor transportasi.
Di tengah kondisi tersebut, sektor jasa keuangan Jawa Timur dinilai tetap adaptif dan kuat dalam menopang aktivitas ekonomi masyarakat maupun dunia usaha.
Sementara itu, perkembangan pasar modal di Jawa Timur hingga Januari 2026 menunjukkan kepercayaan investor terhadap pasar saham nasional masih terjaga. Hal itu tercermin dari meningkatnya jumlah investor, transaksi perdagangan saham, hingga pertumbuhan industri securities crowdfunding.
Jumlah Single Investor Identification (SID) saham pada Januari 2026 tercatat mencapai 1.205.606 SID atau tumbuh 39,48 persen yoy. SID Surat Berharga Negara (SBN) mencapai 193.665 SID atau naik 18,09 persen yoy, sedangkan SID reksa dana mencapai 2.252.901 SID atau tumbuh 32,64 persen yoy.
Peningkatan tersebut menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat Jawa Timur terhadap investasi, didukung digitalisasi layanan keuangan dan peningkatan literasi keuangan.
Dari sisi aktivitas perdagangan saham, nilai transaksi beli pada Januari 2026 tercatat sebesar Rp37,2 triliun atau meningkat 225,91 persen yoy. Sementara nilai transaksi jual mencapai Rp35,5 triliun dengan pertumbuhan 224,35 persen yoy.
OJK menilai lonjakan transaksi tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap pasar saham, didorong kondisi pasar yang lebih kondusif, potensi imbal hasil yang menarik, serta meningkatnya partisipasi investor ritel.
Selain itu, industri securities crowdfunding di Jawa Timur juga menunjukkan perkembangan positif. Penghimpunan dana terbesar tercatat berasal dari sektor primary consumer goods.
Dengan kondisi tersebut, OJK Jawa Timur optimistis sektor jasa keuangan di daerah akan terus mendukung stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan di tengah tantangan eksternal maupun domestik.(red)
Editor : Redaksi zonaperistiwa