Zonaperistiwa || Semarang – Setiap sapuan kuasnya seakan menyimpan kisah panjang. Warna demi warna lahir bukan sekadar gambar, melainkan jejak perjalanan seorang maestro. Dialah Pak Antok, pelukis legendaris asal Semarang, yang sejak awal 1990-an hingga kini tetap tegak berdiri di panggung seni rupa Indonesia, jumat (29/08/2025).
Karya-karya Pak Antock tak sekadar menghiasi kanvas. Ia hadir di ruang-ruang bersejarah: Istana Negara, ruang kerja tiga Presiden RI, hingga koleksi pribadi para menteri, jenderal, dan direksi perusahaan besar. Hampir setiap tokoh penting negeri ini pernah bersentuhan dengan hasil tangannya—membuat namanya tak lekang dari catatan seni rupa nasional.
Geografi Kesenian
Perjalanan artistik Pak Antock bermula pada 1977, saat pertama kali mencoba melukis dengan cat minyak. Sejak itu, kanvas menjadi ruang hidupnya.
Tahun 1981–1987, ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Rupa Yogyakarta—masa yang memperkaya teknik sekaligus memperluas wawasannya tentang seni modern maupun tradisi Nusantara.
Dari 1978 hingga 2007, karya-karyanya tampil dalam 69 kali pameran bersama di berbagai kota besar, mulai dari Semarang, Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Solo, Bali, hingga menembus panggung internasional di Canberra dan kota-kota lain. Rentang panjang ini menegaskan betapa konsistensinya tak pernah pudar dalam hampir tiga dekade perjalanan berkesenian.
Persahabatan yang Menjadi Jalan Ruhani
Namun, ketenaran hanyalah selembar kulit luar dari kisah hidupnya. Di balik itu, tersimpan persahabatan yang begitu mendalam. Pak Antock adalah sahabat karib almarhum ayahanda Mas Sayyid Syahriar. Kehilangan sang sahabat membuatnya menanggung duka yang teramat dalam.
Dari ruang kehilangan itulah lahir sebuah keputusan besar: Pak Antock menisbatkan dirinya pada Tarekat Syadziliyyah di bawah bimbingan Mas Sayyid Syahriar. Baginya, tarekat bukan sekadar jalan spiritual, melainkan warisan persahabatan yang menjelma sebagai cahaya batin.
“Saya merasakan sendiri manfaat dan keberkahannya,” tutur Pak Antock, mengenang langkah ruhani yang kini menjadi bagian dari hidupnya.
Melukis dengan Ruh dan Keberkahan
Bagi Pak Antock, melukis bukan hanya aktivitas seni, melainkan juga ibadah. Setiap kali akan memulai goresan, ia selalu membaca mujahadah serta mengamalkan wirid dan amaliyah yang diistiqomahkan. Bahkan saat melukis, beliau senantiasa menjaga air wudhu.
Waktu-waktu berkaryanya pun selaras dengan ritme doa. Hampir setiap lukisan lahir usai shalat lima waktu, shalat dhuha, atau bahkan di keheningan malam setelah shalat tahajud.
Tak heran bila karya-karyanya memancarkan nuansa ruhani yang dalam. Bagi banyak tokoh nasional, lukisan Pak Antock bukan hanya karya seni rupa, melainkan juga pancaran keberkahan—sebuah daya tarik yang membuatnya begitu digandrungi hingga kini.
Karya Bernilai Fantastis
Meski usianya kian senja, tangannya tak pernah berhenti menorehkan warna. Kolektor, kurator, hingga pecinta seni kembali meliriknya, menyadari betapa tinggi nilai karya maestro asal Semarang ini.
Pada 2001, misalnya, Jenderal Nahrowi dan Jenderal Tiasno Sudarto (Kasad bintang empat) membeli salah satu karyanya seharga Rp100 juta—angka yang pada masa itu sungguh luar biasa. Bahkan sejak era 1990-an, seorang Presiden RI telah mengoleksi lukisannya seharga Rp70 juta. Bila dikalkulasikan dengan nilai hari ini, harganya tentu berlipat-lipat.
Tak berhenti di situ, lukisan Pak Antock juga pernah menghiasi kediaman Presiden Soeharto, Megawati Soekarnoputri, hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Nama-nama besar lainnya, dari jenderal hingga pengusaha nasional, tercatat dalam daftar panjang pengoleksi karyanya.
Apresiasi Pemerintah
Penghargaan terhadap karya Pak Antock tak hanya datang dari kolektor pribadi maupun tokoh nasional. Pada 21 September 2000, Gubernur Jawa Tengah saat itu, M. Mardiyanto, bahkan menghadiahkan sebuah rumah di Jl. Gombel Permai No. 17, Semarang.Pemberian ini menjadi bukti nyata apresiasi pemerintah daerah atas dedikasi seorang maestro yang telah mengharumkan nama Semarang dan Indonesia di dunia seni rupa.
Warisan yang Menyala Lintas Generasi
Bagi Mas Sayyid Syahriar, kisah Pak Antock bukan hanya cerita tentang seni atau persahabatan keluarga. Ada ikatan ruhani yang menghubungkan lintas generasi.
Seni, doa, dan spiritualitas berkelindan dalam perjalanan hidup maestro ini. Setiap goresan kuasnya tak sekadar menghadirkan keindahan visual, melainkan memancarkan kedalaman ruhani—sebuah warisan yang tak lekang oleh waktu.
Editor : Redaksi zonaperistiwa