Zonaperistiwa SURABAYA – Menjaga nama baik dan rekam jejak keuangan menjadi salah satu kunci bagi pelaku usaha untuk mendapatkan akses pembiayaan, termasuk pembiayaan berbasis syariah. Hal tersebut disampaikan pelaku usaha sekaligus peserta Business Coaching Pembiayaan dalam rangkaian Festival Ekonomi Syariah Regional Jawa (FESyar) 2026 di Surabaya, Kamis (25/9/2026).
Kegiatan yang mengangkat tema “Sinergi Peningkatan Pembiayaan Syariah untuk Memperkuat Stabilitas dan Transformasi Ekonomi Regional Jawa” tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai pemanfaatan pembiayaan syariah untuk mendukung pengembangan usaha.
Baca juga: Business Matching Jadi Momentum Perkuat UMKM Berbasis Syariah
Salah satu pelaku usaha, Uswatun Hasana, menceritakan pengalamannya dalam memanfaatkan fasilitas pembiayaan perbankan untuk mengembangkan bisnis yang dijalankannya. Ia mengaku mulai menggunakan pembiayaan dalam skala cukup besar sejak 2018.
Menurut Uswatun, pembiayaan tersebut antara lain digunakan untuk membangun galeri, pengadaan berbagai kebutuhan usaha, hingga investasi sarana dan prasarana seperti pembelian mesin.
“Kalau untuk mulai pembiayaan dalam porsi yang besar itu mulai dari 2018. Sampai sekarang masih kami gunakan, terutama untuk pengadaan dan investasi sarana prasarana, misalnya pembelian mesin dan segala macam,” ujarnya.
Ia mengatakan, akses pembiayaan juga menjadi salah satu strategi untuk menjaga stabilitas operasional usaha ketika membutuhkan tambahan modal. Ketika kebutuhan pembiayaan tidak dapat dipenuhi secara mandiri, pihaknya menghubungkan usaha dengan perbankan, termasuk perbankan syariah.
Uswatun menilai, salah satu hal penting yang harus dijaga pelaku usaha ketika berhubungan dengan lembaga keuangan adalah rekam jejak pembayaran.
“Nama baik itu aset. Kami selalu menjaga nama baik karena saya beranggapan nama baik itu juga aset,” katanya.
Ia mengaku selama menjadi nasabah, pihaknya berupaya memenuhi seluruh kewajiban pembiayaan secara tepat waktu. Bahkan, menurut dia, menjaga komitmen pembayaran menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan dengan lembaga perbankan.
Baca juga: Ribuan Jemaah Hadiri Tabligh Akbar, Fesyar Jawa 2026 Resmi Bergulir
Pengalaman tersebut juga membuat proses pengajuan pembiayaan berikutnya relatif lebih mudah. Menurut Uswatun, sebelum mendapatkan pembiayaan dalam jumlah besar, pihaknya sempat menghadapi tantangan karena usaha masih dalam tahap awal dan belum memiliki portofolio hubungan dengan perbankan.
“Awal mulai sebenarnya tidak ada yang sulit. Selama BI checking kita bagus, dan dari dulu kami selalu menjaga itu,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa dalam proses pengajuan pembiayaan, terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, termasuk terkait jaminan. Namun, menurutnya, komunikasi dan kepercayaan antara pelaku usaha dengan pihak perbankan menjadi hal penting dalam proses tersebut.
“Yang penting kami bisa menjaga komitmen. Alhamdulillah sampai sekarang kami tidak pernah lalai menjaga komitmen yang sudah terjalin,” tuturnya.
Uswatun pun mengajak para pelaku usaha yang ingin memanfaatkan pembiayaan untuk tidak hanya berfokus pada besarnya dana yang diperoleh. Menurutnya, disiplin dalam memenuhi kewajiban justru menjadi modal penting untuk memperoleh akses pembiayaan selanjutnya.
Baca juga: Lewat Kaligrafi, FESyar 2026 Dorong Kreativitas dan Nilai Keagamaan Generasi Muda
Ia menyarankan pelaku usaha menjaga data dan rekam jejak keuangan serta membayar kewajiban pembiayaan tepat waktu. Bahkan, apabila memungkinkan, pembayaran dapat dilakukan sebelum jatuh tempo.
“Kalau kita diamanahi pembiayaan, tolong dibayar. Kalau perlu bayar sebelum waktunya. Paling tidak itu akan memudahkan kita ketika mencoba melakukan pembiayaan berikutnya,” katanya.
Menurut Uswatun, pembiayaan yang dikelola dengan baik dapat memberikan ruang lebih luas bagi pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis.
“Pembiayaan itu menambah ruang gerak kita, menambah pasar kita, menambah bisnis kita. Tentu ekspansinya akan jauh lebih besar lagi,” pungkasnya.(red)
Editor : Redaksi zonaperistiwa