Zonaperistiwa SURABAYA – Menjelang datangnya Bulan Suro, Pasopati Cakra Nusantara bersama komunitas Seniman Lukis Berbudaya menggelar kegiatan budaya bertajuk Mapak Suro 2026 di Selasar Balai Pemuda Surabaya, Minggu (14/6/2026).
Kegiatan yang mengusung tema "Pusakaku Terlukis di Kanvasku" ini menjadi momentum istimewa dalam upaya melestarikan warisan budaya leluhur Nusantara. Melalui konsep melukis langsung atau On The Spot (OTS), para seniman mengabadikan berbagai pusaka, khususnya keris, ke dalam karya seni lukis yang sarat makna dan nilai filosofis.
Baca juga: Ratusan Budayawan Hadiri Expo Gelar Budaya Gerbang Nusantara di Balai Pemuda Surabaya
Ketua Umum Pasopati Cakra Nusantara, KPAS Ki Bagus Mpu Batu, menjelaskan bahwa tema tersebut memiliki pesan mendalam terkait penghormatan terhadap pusaka sebagai warisan budaya yang wajib dijaga dan dilestarikan oleh generasi penerus.
"Menjelang Bulan Suro, masyarakat Jawa memiliki tradisi penjamasan atau pembersihan pusaka. Sebelum prosesi sakral itu dilakukan, pusaka diabadikan terlebih dahulu melalui lukisan. Nantinya karya lukis tersebut dapat disandingkan dengan pusaka yang telah dijamas sebagai bentuk penghormatan dan dokumentasi nilai budaya," ujarnya saat ditemui awak media di lokasi kegiatan.
Baca juga: PASOPATI CAKRA NUSANTARA melestarikan Aksara Jawa lewat Karya Seni
Sebanyak 35 pelukis bersama para pecinta dan pelestari keris turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Suasana penuh kekeluargaan dan semangat pelestarian budaya tampak mewarnai jalannya acara, sekaligus menjadi ruang kolaborasi antara pelaku seni dan pemerhati budaya tradisional.
Menurut Ki Bagus Mpu Batu, kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap nilai-nilai sakral yang terkandung dalam pusaka Nusantara sekaligus upaya memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga identitas budaya bangsa.
Melalui kegiatan Mapak Suro ini, Pasopati Cakra Nusantara berharap seluruh elemen masyarakat dapat terus mendukung berbagai kegiatan pelestarian budaya serta saling melengkapi dalam mengembangkan kekayaan tradisi yang dimiliki Indonesia.
Baca juga: Candi Penataran Jadi Pusat Perhatian Kirab Tumpeng Agung Nusantara Gotong Royong 2025
"Jika bukan kita yang menjaga dan melestarikannya, lalu siapa lagi?" pungkasnya.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi mendatang.(red)
Editor : Redaksi zonaperistiwa