SURABAYA – Seniman dan budayawan Surabaya, Heri Suryanto atau yang akrab disapa Cak Suro, mengaku merasa dijadikan "tumbal" dalam polemik Dewan Kesenian Kota Surabaya (DKKS) yang hingga kini tak kunjung menemukan kejelasan.
Menurut Cak Suro saat di hubungi oleh rekan rekan media melalui WhatsApp,mengatakan persoalan bermula saat dirinya menerima undangan resmi dari Pemerintah Kota Surabaya untuk mengikuti proses pemilihan Ketua DKKS. Dalam proses tersebut, ia terpilih sebagai ketua dan kemudian membentuk susunan kepengurusan sesuai mekanisme yang telah ditetapkan.
Baca juga: Janji Kerja Palsu, Uang Raib! Eks Camat Pakal Diduga Tipu Warga
"Setelah kepengurusan terbentuk, saya ajukan ke Pemkot. Tetapi setelah itu tidak ada kabar sama sekali," ungkapnya.
Ketidakjelasan status DKKS yang dipimpinnya berlangsung selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut membuat dirinya kerap mendapat pertanyaan hingga tekanan dari berbagai kalangan seniman yang mempertanyakan kelanjutan organisasi tersebut.
"Seolah-olah saya yang harus menanggung semuanya. Saya merasa seperti dijadikan tumbal dalam proses yang tidak pernah selesai," kenangnya.
Karena tidak kunjung mendapatkan kepastian, sekitar dua tahun lalu Cak Suro akhirnya mengambil langkah tegas dengan menyatakan pembubaran DKKS yang dipimpinnya.
Ia menegaskan bahwa selama terlibat dalam DKKS dirinya tidak pernah memiliki kepentingan pribadi. Niatnya semata-mata untuk mendorong kemajuan dunia kesenian di Kota Surabaya.
"Saya hanya ingin teman-teman seniman bisa bergerak. Saya ingin dunia kesenian Surabaya berkembang dan tidak kalah dengan daerah lain," tegasnya.
Menurut Cak Suro, sejumlah daerah di Jawa Timur telah berhasil membangun identitas budaya yang kuat melalui berbagai festival dan kegiatan kreatif yang mampu menarik perhatian publik hingga wisatawan.
"Kita lihat Jember dengan berbagai festivalnya. Banyuwangi juga terus berkembang dengan inovasi budaya dan keseniannya. Sementara Surabaya menurut saya masih belum maksimal memanfaatkan potensi besar yang dimiliki para senimannya," ujarnya.
Padahal, lanjut dia, Surabaya memiliki sumber daya manusia yang sangat kompeten di bidang seni dan budaya. Mulai dari seniman, sutradara, koreografer, presenter, komedian hingga berbagai pekerja kreatif lahir dari Kota Pahlawan.
Bahkan tidak sedikit yang merupakan lulusan perguruan tinggi seni ternama seperti Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta maupun ISI Surakarta.
Baca juga: Kenaikan Pajak Reklame Oleh Pemkot Surabaya Dinilai Tebang Pilih
Cak Suro juga menyoroti pelaksanaan peringatan Hari Jadi Kota Surabaya yang dinilainya cenderung monoton dan kurang menghadirkan inovasi baru dari para pelaku seni lokal.
"Sedih rasanya melihat Kota Pahlawan ini seperti miskin kreativitas kegiatan kesenian. Contohnya peringatan ulang tahun Surabaya yang hanya diisi rujak ulek dan parade mobil bunga. Puluhan tahun seperti itu terus. Padahal karya seni itu harus berkembang, harus ada sesuatu yang baru dan segar," kritiknya.
Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena potensi para seniman Surabaya belum dirangkul secara maksimal.
Ia mengingatkan bahwa Surabaya memiliki sejarah panjang melahirkan tokoh-tokoh besar di dunia seni dan hiburan nasional. Mulai dari kelompok lawak Srimulat, Surya Group, seniman teater Ratna Timur, komedian Mamik Slamet, hingga musisi seperti Ita Purnamasari, Gombloh, Dani Dewa dan sejumlah nama besar lainnya.
"Seharusnya kita malu kepada para pendahulu yang telah mengharumkan nama Surabaya melalui karya-karyanya," katanya.
Cak Suro juga menilai masih banyak peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mengangkat nama Surabaya di tingkat nasional, mulai dari ajang pencarian bakat seperti Indonesia Idol, KDI, Dangdut Academy, Stand Up Comedy hingga industri perfilman.
Baca juga: Gedung 12 Lantai di Jantung Surabaya Disorot: Izin Kabur, Oknum GARNISUN Nongol
Menurutnya, pemerintah melalui dinas terkait dapat berperan aktif memberikan pembinaan dan pendampingan kepada generasi muda Surabaya yang memiliki potensi di bidang seni dan hiburan.
"Kalau ada anak Surabaya ikut audisi nasional dan berhasil, mereka pasti ditanya berasal dari mana. Ketika mereka menjawab dari Surabaya, itu otomatis ikut mengharumkan nama kota ini. Peluang seperti itu sangat banyak, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal," ujarnya.
Di dunia perfilman pun, lanjut Cak Suro, banyak talenta muda asal Surabaya yang membutuhkan dukungan agar dapat berkembang dan membawa identitas budaya Suroboyoan ke tingkat yang lebih luas.
Ia berharap Pemerintah Kota Surabaya dapat membuka ruang dialog yang lebih luas dengan para pelaku seni dan budaya. Dengan demikian, potensi besar yang dimiliki Kota Pahlawan dapat berkembang menjadi kekuatan budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
"Harapan saya sederhana. Berikan kesempatan kepada seniman Surabaya untuk berkarya dan libatkan mereka dalam pembangunan kebudayaan kota. Potensinya sangat besar, tinggal bagaimana semuanya dirangkul dan diberi ruang untuk berkembang," pungkasnya.(Red)
Editor : Redaksi zonaperistiwa