Zonaperistiwa Surabaya - epidemi HIV di Indonesia terus berkembang dalam senyap. Ia tidak menimbulkan kepanikan seperti Covid-19, tetapi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat dan produktivitas penduduk usia kerja sangat besar.
Yang mengkhawatirkan, ketika banyak negara berhasil menurunkan infeksi baru HIV secara signifikan, Indonesia justru masih menghadapi tantangan besar dalam menemukan dan mengobati penderita.
Data terbaru Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa pada 2025 diperkirakan terdapat sekitar 564.000 orang hidup dengan HIV (ODHIV) di Indonesia. Namun hingga Maret 2025, baru sekitar 356.638 orang atau 63 persen yang mengetahui statusnya. Dari mereka yang telah teridentifikasi, hanya 67 persen yang menjalani terapi antiretroviral (ARV), dan sekitar 55 persen yang berhasil mencapai supresi virus. Dengan kata lain, hampir separuh penderita HIV di Indonesia masih berada di luar sistem pengobatan yang optimal.
Data Kementerian Kesehatan juga menunjukkan bahwa 76 persen kasus HIV Indonesia terkonsentrasi di 11 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Bali, Papua, Papua Tengah, Sulawesi Selatan, Banten, dan Kepulauan Riau. Konsentrasi ini tidak terlepas dari tingginya urbanisasi, mobilitas penduduk, dan aktivitas ekonomi yang memperbesar interaksi sosial.
Kelompok usia yang paling terdampak adalah usia produktif. Sebanyak 74 persen ODHIV yang teridentifikasi berada pada rentang usia 25–49 tahun. Artinya, epidemi HIV di Indonesia terutama menyerang kelompok yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga dan pembangunan nasional.
Senator Lia Istifhama Menurutnya, sapaan akrab Ning Lia Istifhama, persoalan HIV/AIDS tidak bisa hanya dipandang sebagai isu kesehatan semata. Di balik tingginya angka kasus, terdapat tantangan sosial yang membutuhkan keterlibatan aktif keluarga sebagai garda terdepan dalam membangun karakter anak.
Ning Lia juga mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat langkah preventif dan kuratif secara berkelanjutan melalui edukasi, skrining kesehatan, deteksi dini, pendampingan psikologis, hingga pengobatan bagi penderita HIV/AIDS.
Selain itu, ia menilai penegakan hukum harus dilakukan secara tegas terhadap pihak yang dengan sengaja menularkan penyakit kepada orang lain. Menurutnya, perlindungan terhadap masyarakat harus menjadi prioritas dalam upaya menekan laju penyebaran HIV/AIDS.
Tingginya angka kasus di Jawa Timur menjadi alarm bagi seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat edukasi kesehatan, membangun komunikasi yang sehat dalam keluarga, serta menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang generasi muda secara positif.
“Kita sudah melihat provinsi mana yang tertinggi, tetapi kita juga melihat ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan bersama. Anak-anak harus dijaga agar sehat, baik secara fisik maupun psikis. Mereka harus memiliki benteng pribadi yang kuat agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang berisiko,” tandasnya
Lanjut menegaskan peran orang tua sangat menentukan dalam membentuk kepribadian dan pola pikir anak. Karena itu, orang tua tidak boleh bersikap cuek terhadap lingkungan sosial maupun pergaulan anak-anak mereka.
Pernyataan Lia Istifhama menarik karena menggeser fokus pembahasan HIV/AIDS dari sekadar persoalan medis menjadi persoalan sosial dan keluarga. Di tengah tingginya kasus pada kelompok usia produktif, pendekatan berbasis keluarga menjadi penting untuk memperkuat ketahanan generasi muda terhadap berbagai perilaku berisiko.
Upaya pencegahan yang hanya mengandalkan layanan kesehatan tidak akan cukup tanpa dukungan lingkungan keluarga yang kuat, komunikasi yang terbuka, serta pendidikan karakter yang berkelanjutan.
Menurutnya, hubungan yang dibangun harus lebih dari sekadar pengawasan. Orang tua harus menjadi sahabat yang mampu mendengarkan, memahami, dan membangun kepercayaan dengan anak-anaknya.
“Kita harus benar-benar menjadi sahabat anak. Kita harus memahami siapa teman mereka, siapa yang mereka ajak bicara, dan bagaimana lingkungan pergaulannya. Jangan sampai anak-anak justru lebih percaya kepada orang lain, apalagi kepada orang yang membawa pengaruh buruk,” cetus Ning Lia.(red)
Editor : Redaksi zonaperistiwa