Perhutani Divre Jatim Dongkrak Pendapatan Dari Wisata

Surabaya - Perhutani Divre Jatim atau Perhutani Divisi Regional Jawa Timur akan memacu potensi bisnis wisata kelola KPH (Kesatuan Pemangkuan Hutan) pada tahun 2024 dengan menargetkan pendapatan Rp. 50,7 milyar, kata Kepala Perhutani Divisi Regional Jawa Timur, Asep Dedi Mulyadi, di Surabaya, Jumat (8/3).

Asep optimis target Rp. 50,7 Milyar itu akan tercapai bahkan terlampaui, mengingat target RKAP tahun 2023 Rp. 46,7 milyar bisa tercapai Rp 59 milyar atau terealisasi 125%. Langkah itu dilakukan sebagai bagian dari upaya mendongkrak pendapatan di luar bisnis produksi kayu, ujarnya.

Wisata kelola KPH ini sifatnya kerjasama antara Perhutani dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Pemerintah Daerah, swasta atau dengan koperasi. Ada sejumlah 270 lokasi wisata kelola KPH yang tersebar di wilayah kerja Perhutani Divre Jatim, katanya.

Dari 270 lokasi wisata aktif tersebut, terbagi dalam tiga kategori antara lain wana wisata 60 lokasi, wisata rintisan 100 lokasi dan wisata belum penetapan 110 lokasi.

Asep juga mengatakan, dalam lima tahun terakhir pendapatan wisata kelola KPH mengalami fluktuasi, terutama pasca pandemi Covid-19, namun dengan menerapkan standarisasi pengelolaan wisata bersertifikasi SNI CHSE di beberapa lokasi wisata, Perhutani berhasil meningkatkan daya tarik pengunjung sehingga pada tahun 2022 pendapatan wisata kelola KPH meningkat 45% dari 25,8 miliar menjadi 57,1 miliar. Dan pada tahun 2023, pendapatan tersebut meningkat 1,6% menjadi 59 miliar.

“Ada 11 lokasi wisata kelola KPH yang sudah mendapatkan sertifikasi SNI CHSE dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan pada tahun 2024 ini, kita rencanakan ada 10 lokasi wisata untuk mendapatkan sertifikasi SNI CHSE,” ujarnya.

Lebih lanjut, Asep menjelaskan bahwa terdapat lima kebijakan pengelolaan wisata kelola KPH yang akan diterapkan pada tahun 2024. Pertama, mendorong wisata agar bersertifikasi SNI CHSE. Kedua peningkatan transparansi komitmen, di antaranya melalui penerapan e-ticketing. Ketiga, peningkatan daya saing produk wisata. Keempat, perubahan entitas bisnis LMDH menjadi badan usaha. Dan yang terakhir, evaluasi pengelolaan lokasi wisata, termasuk di dalamnya melakukan penutupan lokasi wisata yang tidak aktif serta melakukan pemetaan wisata prioritas untuk pengembangan lebih lanjut.

Sementara itu untuk mengoptimalkan potensi bisnis wisata kelola KPH, Perhutani Divre Jatim akan terus membangun kemitraan strategis, seperti yang baru dilaksanakan di wisata Tanaria Park, Prigen yang di hadiri para mitra pengelola wisata yang telah menjalin kerjasama dengan Perhutani.

Dalam kesempatan itu, Perhutani Divre Jatim memberikan apresiasi kepada beberapa pengelola wisata atas kontribusi pendapatan terbesar tahun 2023 antara lain, Wisata Pantai Serang KPH Blitar sebagai terbaik satu, Wana Wisata Madakaipura KPH Probolinggo terbaik dua, dan Wisata Pantai Mutiara KPH Kediri terbaik tiga.

Sementara itu, Dipo selaku pengelola wisata Tanaria Park yang menjadi tuan rumah pada acara diskusi membangun kemitraan strategis untuk pengelolaan wisata Divre Jatim mengucapkan terima kasih atas kesempatan ini.

Dia menegaskan pentingnya kerjasama antara pengelola wisata, Perhutani, dan berbagai pihak terkait dalam mengembangkan pariwisata di wilayah Jawa Timur. Dipo juga menyampaikan komitmen untuk terus berperan aktif dalam memajukan industri wisata secara berkelanjutan serta menjaga kelestarian alam dan budaya setempat.

“Kami berharap kerjasama yang terjalin dapat membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar, lingkungan, dan industri pariwisata secara keseluruhan,” pungkasnya.(red)

Editor : zonaperistiwa