HUT Karantina ke-149 di Jatim, Barantin Dorong Sinergi Lindungi Pangan dan Sumber Daya Hayati

Reporter : zonaperistiwa

Zonaperistiwa (Sidoarjo) – Memperingati Hari Karantina ke-149 sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 Badan Karantina Indonesia (Barantin), Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Timur menggelar serangkaian kegiatan yang melibatkan masyarakat, mitra kerja, serta sejumlah instansi pemerintah.

Kegiatan yang berlangsung meriah tersebut diawali dengan jalan sehat yang menyediakan berbagai hadiah undian (doorprize), dilanjutkan pemeriksaan kesehatan dan vaksinasi rabies gratis bagi hewan peliharaan, pasar murah sembako bekerja sama dengan Perum Bulog, serta bazar dari sponsor dan mitra Barantin.

Baca juga: Cegah Hama Lolos Bersama Komoditas, Karantina Jatim Perkuat Standar Fumigasi

Peringatan ini tidak sekadar menjadi momentum perayaan, tetapi juga sarana memperkenalkan peran strategis karantina dalam menjaga keamanan pangan, melindungi sumber daya hayati, serta mencegah masuk dan menyebarnya hama dan penyakit hewan, ikan, maupun tumbuhan di Indonesia.

Sekretaris Utama Badan Karantina Indonesia (Barantin), Shahandra Hanitiyo, S.IP., M.Si., mengatakan, peringatan Hari Karantina ke-149 memiliki sejarah panjang yang berawal sejak masa pemerintahan kolonial Belanda.

Menurutnya, sejarah karantina di Indonesia bermula dari upaya pemerintah saat itu untuk mencegah masuknya penyakit tumbuhan dari luar negeri, termasuk penyakit sereh atau Sereh disease yang dikaitkan dengan tanaman tebu dan berasal dari Sri Lanka.

“Ini hari ulang tahun ke-149 sejak zaman VOC sampai hari ini. Awal mulanya adalah masuknya penyakit pada tumbuhan dari Sri Lanka ke Indonesia. Dari situ, pemerintah saat itu menerapkan kebijakan karantina,” ungkap Shahandra.

Ia menjelaskan, peringatan tahun ini juga menandai ulang tahun ketiga Barantin sebagai lembaga yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.

Dalam rangkaian peringatan tersebut, Barantin menyelenggarakan berbagai kegiatan secara serentak di berbagai daerah melalui unit-unit pelaksana teknis. Hampir sembilan hingga sepuluh rangkaian kegiatan dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat dan berbagai mitra strategis.

Menurut Shahandra, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pimpinan Barantin untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai fungsi dan tanggung jawab lembaga karantina.

“Masih banyak masyarakat, bahkan di kalangan pemerintahan, yang bertanya sebenarnya karantina itu mengerjakan apa. Ada yang masih bingung membedakan karantina kesehatan dengan Badan Karantina Indonesia,” ujarnya.

Ia menerangkan, karantina kesehatan berada di bawah Kementerian Kesehatan, sedangkan Barantin menjalankan tugas pengawasan karantina terhadap hewan, ikan, dan tumbuhan.

Kedua fungsi tersebut memiliki ruang lingkup berbeda, tetapi sama-sama berkaitan dengan perlindungan masyarakat. Barantin secara khusus menjalankan tugas untuk mencegah masuk, keluar, dan tersebarnya hama serta penyakit yang dapat mengancam kesehatan hewan, ikan, tumbuhan, dan kelestarian sumber daya hayati.

Karena itu, sosialisasi secara masif menjadi salah satu perhatian utama Barantin agar masyarakat memahami bahwa karantina bukan sekadar pemeriksaan administratif di pintu masuk dan keluar wilayah, melainkan bagian penting dari sistem perlindungan nasional.

“Pimpinan kami, Pak Abdul Qadir, menyampaikan agar sosialisasi ini dilakukan secara masif. Kita ingin masyarakat mengenal peran dan fungsi strategis Badan Karantina Indonesia,” tegasnya.

Karantina Berperan Menjaga Ketahanan Pangan Nasional

Shahandra menegaskan, peran karantina memiliki keterkaitan langsung dengan ketahanan pangan nasional. Pengawasan terhadap lalu lintas komoditas pertanian, peternakan, perikanan, dan tumbuhan menjadi salah satu langkah untuk memastikan program pembangunan pangan tidak terganggu oleh masuknya organisme pengganggu maupun penyakit berbahaya.

Ia mencontohkan rencana penanaman tebu di wilayah Papua Selatan yang menggunakan bahan tanaman dari Australia.

Meskipun proses penelusuran asal komoditas atau traceability telah dilakukan, pemeriksaan karantina tetap menemukan indikasi organisme pengganggu berupa penyakit pada bahan tebu yang akan ditanam.

Temuan tersebut membuat komoditas ditahan untuk dilakukan tindakan lebih lanjut.

“Bayangkan kalau bahan tanaman itu lolos dan ditanam di lahan yang sedang dipersiapkan untuk program pangan berskala besar. Kalau penyakitnya menyebar, program tersebut bisa gagal. Ini contoh bahwa hal-hal kecil yang kita jaga di karantina bisa berdampak besar,” jelasnya.

Ia menyebut, ancaman penyakit hewan seperti African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika juga menjadi perhatian serius karena dapat menyebabkan kematian ternak dalam jumlah besar dan menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak.

Begitu pula dengan penyakit mulut dan kuku (PMK) yang pernah merebak pada 2022 dan menimbulkan dampak ekonomi sangat besar bagi sektor peternakan Indonesia.

Menurut Shahandra, berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa tindakan pencegahan di pintu-pintu pemasukan dan pengeluaran wilayah menjadi bagian penting untuk melindungi sektor pertanian, peternakan, serta program ketahanan pangan.

“Kalau ada istilah the devil is in the detail, hal-hal kecil itulah yang harus kita jaga. Kalau sampai lolos, dampaknya bisa menyebar besar. Tugas kita memastikan ancaman tersebut tidak merusak program pembangunan ke depan,” paparnya.

Terkait pelaksanaan pasar murah dalam peringatan HUT Karantina, Shahandra menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi Barantin dalam mendukung ekosistem ketahanan pangan.

Kolaborasi dengan Bulog dan mitra lainnya merupakan bagian dari sinergi antarlembaga untuk membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

Ia menambahkan, rangkaian kegiatan sosial dan pelayanan masyarakat dalam peringatan HUT Karantina juga menjadi sarana untuk mendekatkan institusi kepada masyarakat sekaligus memperlihatkan manfaat nyata keberadaan Barantin.

Vaksinasi Rabies Gratis, Lindungi Hewan dan Manusia

Selain ketahanan pangan, perhatian terhadap kesehatan hewan juga menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Baca juga: Barantin Musnahkan 420 Kg Benih Sawi Impor Terdeteksi Bakteri Perusak Tanaman

Pelayanan pemeriksaan kesehatan hewan dan vaksinasi rabies gratis dilaksanakan sebagai bentuk bakti karantina kepada masyarakat, sekaligus memperingati Hari Rabies Sedunia yang jatuh setiap 28 September.

Ketua Ikatan Dokter Hewan Karantina Indonesia (IDHKI), drh. Apris Beniawan, M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara Barantin, dokter hewan, pemerintah daerah, serta mitra swasta yang bergerak di bidang kesehatan dan kebutuhan hewan kesayangan.

Menurut Apris, keterlibatan berbagai pihak diharapkan dapat memperluas edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan hewan peliharaan, khususnya melalui vaksinasi rabies.

“Tidak hanya pada momentum Hari Rabies Sedunia, kami juga mengajak mitra-mitra, pemerintah daerah terkait kesehatan hewan, serta pihak swasta, termasuk mitra pakan hewan kesayangan, untuk bersama-sama menyosialisasikan pentingnya kesehatan hewan melalui vaksinasi rabies,” ujarnya.

Ia mengatakan, kegiatan vaksinasi gratis dalam rangka HUT Karantina merupakan salah satu bentuk kepedulian Barantin dan para mitra terhadap masyarakat.

Apris mengakui, biaya vaksinasi di klinik hewan dapat berbeda-beda, bergantung pada jenis vaksin, merek, kualitas, serta layanan yang diberikan.

Terdapat vaksin dengan formulasi tunggal maupun kombinasi, seperti vaksin single, double, dan triple, yang memiliki karakteristik serta kisaran harga berbeda.

Meski demikian, melalui kegiatan pelayanan gratis dan kolaborasi dengan mitra, IDHKI berupaya agar semakin banyak masyarakat memiliki kesempatan untuk memberikan perlindungan kesehatan bagi hewan peliharaan mereka.

Ia menekankan bahwa vaksinasi rabies sangat penting karena penyakit tersebut bersifat zoonosis, yakni dapat menular dari hewan ke manusia, dan berpotensi menyebabkan kematian apabila tidak ditangani secara tepat.

“Rabies sangat penting untuk dicegah melalui vaksinasi. Penyakit ini fatal. Ketika seseorang sudah terkena rabies dan tidak mendapatkan penanganan cepat, bisa menyebabkan kematian. Karena sifatnya zoonosis, penyakit ini dapat menular kepada manusia,” tegas Apris.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan vaksinasi rabies dan pemeriksaan kesehatan hewan secara berkala.

Melalui kegiatan tersebut, Barantin bersama IDHKI berharap kesadaran masyarakat terhadap kesehatan hewan semakin meningkat, sekaligus mendukung upaya pencegahan penyebaran penyakit yang dapat membahayakan manusia.

Karantina Jatim Perkuat Sinergi dengan Pemerintah dan Mitra

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Timur, Hudiansyah Is Nursal, S.H., M.I.L.I.R., menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak dalam menyukseskan rangkaian peringatan HUT Karantina di Jawa Timur.

Ia menyebut, antusiasme pegawai dan dukungan mitra menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan kegiatan yang dirancang tidak hanya untuk internal lembaga, tetapi juga memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Baca juga: Koper Berisi Monyet Terbongkar di Bandara Juanda, Petugas Kini Telusuri Pemiliknya

Menurut Hudiansyah, kehadiran Sekretaris Utama Barantin beserta jajaran pejabat utama di lingkungan Barantin menjadi kehormatan sekaligus motivasi bagi jajaran Karantina Jawa Timur.

“Ini merupakan satu kehormatan bagi kami karena HUT Karantina di Jawa Timur dihadiri langsung oleh Ketua Panitia HUT Karantina dari Jakarta. Kami berharap kegiatan ini menjadi dharma bakti Karantina Jawa Timur bagi Badan Karantina Indonesia sekaligus bentuk apresiasi teman-teman kepada masyarakat sekitar,” ujarnya.

Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, memperkuat hubungan antara Barantin dengan lingkungan sekitar, serta meningkatkan kerja sama antarlembaga.

Hudiansyah juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan, termasuk unsur Kementerian Keuangan, Lanudal, kepolisian, Bulog, serta berbagai sponsor dan mitra kerja.

Menurutnya, dukungan lintas instansi menjadi bukti bahwa pelaksanaan tugas karantina membutuhkan sinergi yang kuat, terutama dalam menghadapi tantangan pengawasan lalu lintas hewan, ikan, dan tumbuhan.

Ia mengungkapkan, momentum silaturahmi dalam kegiatan tersebut juga membuka peluang untuk memperluas kerja sama dengan kementerian dan lembaga yang berada di wilayah Sidoarjo.

Salah satu gagasan yang dibicarakan adalah kemungkinan menggelar kegiatan coffee morning bersama kementerian dan lembaga di daerah sebagai ruang komunikasi, koordinasi, serta penguatan kolaborasi.

“Kami berharap melalui silaturahmi ini, ke depan kerja sama kita semakin erat. Tanpa dukungan Bapak-Ibu dari Lanudal, kepolisian, kementerian, lembaga, dan para mitra, kegiatan ini tidak akan berjalan lancar,” katanya.

Momentum Penguatan Pelayanan Publik dan Edukasi Karantina

Peringatan HUT ke-149 Hari Karantina dan HUT ke-3 Barantin di Jawa Timur menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara institusi karantina dengan masyarakat.

Melalui jalan sehat, pemeriksaan kesehatan hewan, vaksinasi rabies gratis, pasar murah Bulog, serta bazar mitra dan sponsor, Barantin berupaya menghadirkan kegiatan yang menggabungkan edukasi, pelayanan publik, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa fungsi karantina tidak hanya berkaitan dengan pengawasan komoditas di perbatasan, tetapi juga berhubungan erat dengan perlindungan kesehatan hewan, keamanan pangan, keberlanjutan sektor pertanian dan peternakan, serta ketahanan ekonomi nasional.

Dengan memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, pelaku usaha, dokter hewan, serta masyarakat, Barantin berharap upaya pencegahan masuk dan tersebarnya hama serta penyakit hewan, ikan, dan tumbuhan dapat berjalan semakin efektif.

Di usia ke-149 tahun perjalanan karantina Indonesia dan tiga tahun pembentukan Barantin, penguatan sosialisasi serta pelayanan kepada masyarakat menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman bersama mengenai pentingnya karantina bagi perlindungan sumber daya hayati dan masa depan ketahanan pangan Indonesia.(red)

Editor : Redaksi zonaperistiwa

Nasional
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru