Zonaperistiwa Surabaya – Langkah tegas Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Jawa Timur menutup sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diduga terkait kasus keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Surabaya mendapat apresiasi dari anggota DPD RI Komite III, Lia Istifhama.
Senator asal Jawa Timur yang akrab disapa Ning Lia itu menilai keputusan penutupan sementara SPPG merupakan langkah tepat sambil menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang disajikan kepada siswa di 12 sekolah terdampak.
Baca juga: Ning Lia Sambangi Santri Korban Keracunan MBG Di Sidoarjo, Tekankan Pentingnya Pemulihan Mental
“Kita sama-sama mendapatkan informasi bahwa sampel makanan sedang diuji laboratorium. Namun tentunya sambil menunggu hasil pun, langkah tegas memang harus dilakukan. Dan yang dilakukan BGN dengan menutup SPPG itu secara sementara, sangat tepat,” ujar Lia Istifhama, Selasa (12/5/2026).
Meski mengapresiasi tindakan cepat BGN, Ning Lia tetap memberikan catatan kritis terkait pelaksanaan program MBG agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Menurutnya, dugaan keracunan makanan dalam program MBG bukan pertama kali terjadi.
Karena itu, perhatian utama seharusnya tidak hanya pada langkah penanganan setelah kejadian, tetapi juga pada upaya pencegahan sejak awal.
“Dugaan keracunan akibat sajian menu MBG ini bukan peristiwa pertama.
Ini sudah kesekian kali dan terjadi di berbagai tempat, bukan hanya Surabaya. Maka yang harus dipahami bersama adalah upaya preventif. Jika penutupan SPPG yang bermasalah itu langkah kuratif, maka pencegahannya harus diperkuat,” katanya.
Baca juga: HUT ke-81 RI, Ning Lia Dorong DPD RI Perkuat Peran Strategis Daerah di Tingkat Nasional
Ning Lia secara khusus menyoroti kemampuan pengelolaan makanan dalam jumlah besar yang dinilainya tidak bisa dilakukan sembarangan, terutama karena sasaran program MBG adalah anak-anak dan kelompok rentan seperti ibu hamil.
“Memasak 3.000 porsi bukan perkara mudah. Jika penyedia makanan tidak memiliki latar belakang usaha kuliner atau katering dengan kapasitas besar, maka potensi kesalahan pengolahan maupun penyajian sangat mungkin terjadi,” tegasnya.
Ia juga menyinggung laporan siswa yang mengaku merasakan rasa pahit pada bumbu krengsengan dalam menu MBG di wilayah Tembok Dukuh. Menurutnya, hal tersebut menjadi pertanyaan serius terkait proses quality control sebelum makanan dibagikan.
Baca juga: Lia Istifhama DPD RI Apresiasi Haji 2026, Dorong Peningkatan Layanan Jemaah Tahun Depan
“Apakah SPPG sebelum menyajikan sudah mencoba sampel makanan tersebut? Lalu apakah memasak dilakukan sekaligus untuk 3.000 porsi atau bertahap? Jika proses pengolahan dilakukan beberapa kali, maka setiap hasil masakan harus diuji terlebih dahulu sebelum disajikan.
Jangan sampai hanya batch pertama yang dicicipi, sementara berikutnya tidak,” jelasnya.
Lebih lanjut, Lia mengungkapkan bahwa persoalan target 3.000 porsi per hari sebenarnya pernah ia sampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama BGN pada awal tahun 2025.(red)
Editor : Redaksi zonaperistiwa